Anies Sentil Sistem Pajak: ‘Kayak Mancing Ikan di Danau, Cocoknya Untung-untungan, Bukan Negara!’

Panggung diskusi perpajakan nasional tiba-tiba memanas ketika Anies Baswedan melontarkan analogi yang langsung memicu perdebatan publik. Dalam forum ekonomi yang digelar di Jakarta, ia mengibaratkan sistem pajak Indonesia seperti “memancing ikan di danau” tidak pasti, tidak terukur, dan sangat bergantung pada keberuntungan. Ungkapan itu sontak menyebar cepat di media sosial dan menimbulkan diskusi luas mengenai kualitas tata kelola perpajakan tanah air.

Dalam paparannya, Anies—yang dikenal sering menggunakan metafora untuk menggambarkan persoalan kebijakan—mengatakan bahwa model sistem pajak saat ini tidak memberikan kepastian bagi wajib pajak maupun pemerintah. Ia menilai bahwa sistem pajak seharusnya menjadi instrumen fiskal yang presisi, bukan sekadar mekanisme penarikan pendapatan negara yang cenderung berubah-ubah.

Menurutnya, seperti halnya memancing di danau, sistem pajak sekarang “sering kali tidak jelas: kapan hasilnya, berapa ukurannya, dan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil terbaik.” Pernyataan tersebut segera menuai tepuk tangan sekaligus kritik dari berbagai pihak.

Analogi ‘Mancing di Danau’: Kritik atau Sindiran?

Dalam konteks forum itu, Anies menjelaskan bahwa memancing di danau adalah aktivitas yang sangat bergantung pada keberuntungan. Kita bisa menunggu lama tanpa hasil, atau sesekali mendapat ikan besar tanpa perhitungan. Ia menilai model demikian tidak cocok diterapkan pada sistem perpajakan negara sebesar Indonesia.

“Pajak bukan permainan peluang,” tegasnya. “Ia harus berjalan dengan kalkulasi, struktur, dan prediktabilitas. Kalau semuanya bergantung pada momen atau intuisi, negara akan terus kesulitan mencapai target fiskal.”

Metafora itu dianggap sebagian pengamat sebagai kritik terhadap kurangnya modernisasi, minimnya kepastian regulasi, serta lemahnya integrasi data perpajakan di Indonesia. Di sisi lain, ada pula yang menilai analogi tersebut terlalu sarkastik.

Pelaku Usaha: ‘Tepat Sasaran, Kami Sudah Lama Mengeluh’

Pernyataan Anies mendapat sambutan positif dari sejumlah pelaku usaha yang mengaku sering menghadapi ketidakpastian dalam penegakan aturan pajak. Mereka merasa bahwa kebijakan pajak kerap berubah dalam waktu singkat dan tidak jarang diterapkan tanpa sosialisasi yang memadai.

Beberapa pengusaha bahkan menyebut bahwa pernyataan “memancing di danau” cukup menggambarkan pengalaman mereka menghadapi ketidakpastian audit, interpretasi peraturan yang berbeda di setiap daerah, serta birokrasi yang dinilai tidak konsisten.

“Kadang merasa benar, tapi masih bisa dinilai salah. Kadang merasa salah, tapi dianggap benar. Persis kayak mancing, tidak ada yang pasti,” ujar seorang pengusaha dalam sebuah diskusi publik di Jakarta.

Kritik Balik: ‘Analogi Itu Menyesatkan dan Terlalu Menyederhanakan’

Meski mendapat dukungan, tidak sedikit pihak yang menilai pernyataan Anies justru berlebihan. Beberapa ekonom menilai bahwa sistem pajak Indonesia memang punya kelemahan, tetapi tidak bisa digambarkan sesederhana aktivitas memancing.

Mereka menyebut bahwa perbaikan sistem perpajakan sudah berlangsung bertahun-tahun, termasuk transformasi digital, integrasi data, dan pembaruan layanan. Menurut kelompok ini, apa yang disebut Anies sebagai “memancing di danau” seharusnya dilihat sebagai proses adaptasi kebijakan yang sedang bergerak ke arah modern.

“Pajak tidak mungkin seratus persen pasti, bahkan di negara maju,” kata seorang analis fiskal. “Untuk mengatakan sistemnya seperti memancing, itu terlalu retoris dan tidak memberikan solusi konkret.”

Anies: ‘Kalau Mau Ikan Banyak, Perlu Sistem, Bukan Joran Beruntung’

Menanggapi respons tersebut, Anies menekankan bahwa analoginya bukan untuk merendahkan upaya yang telah dilakukan pemerintah, melainkan untuk menggambarkan urgensi pembaruan besar yang lebih menyentuh akar persoalan.

Ia menegaskan bahwa negara harus memiliki “danau yang jelas, ikan yang terdata, alat pancing modern, dan aturan memancing yang terukur.” Ia mengajak pemerintah memperkuat sistem berbasis data, memperbaiki prediktabilitas kebijakan, serta menghapus ruang abu-abu dalam penegakan peraturan pajak.

Menurutnya, selama perpajakan masih mengandalkan pendekatan manual dan interpretatif, potensi kebocoran dan ketidakpastian akan tetap besar.

Publik Terbelah: Humor Politik atau Kritik Serius?

Di media sosial, ungkapan “mancing di danau” menjadi bahan meme sekaligus perdebatan. Sebagian warganet menganggap analogi itu lucu, segar, dan tepat sasaran. Sebagian lain menganggapnya terlalu dramatis untuk isu serius seperti pajak.

Meski begitu, satu hal yang jelas: metafora tersebut sukses menarik perhatian publik pada isu perpajakan yang biasanya dianggap berat dan membosankan.

Beberapa akademisi komunikasi politik menilai bahwa penggunaan metafora sederhana memang sering berhasil membuat isu teknis menjadi lebih mudah dicerna masyarakat.

Akankah Pemerintah Menjawab?

Apakah analogi tajam Anies ini akan menjadi pemicu evaluasi besar terhadap sistem perpajakan nasional, atau hanya akan menjadi perdebatan sesaat? Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah.

Namun satu yang pasti: dengan satu metafora, diskusi tentang pajak kembali hidup. Dan publik kini bertanya-tanya, apakah sistem pajak benar-benar bisa diperbaiki — atau apakah kita akan terus “memancing di danau” sambil berharap mendapatkan ikan besar?