Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan kembali menarik perhatian publik setelah menghadiri sebuah agenda reuni besar yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Acara tersebut mempertemukan alumni lintas angkatan dari organisasi mahasiswa terbesar di kampus tersebut, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM.
Reuni lintas angkatan itu digelar sebagai wadah bagi para aktivis mahasiswa dari generasi awal hingga generasi terbaru untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan berdiskusi tentang masa depan gerakan mahasiswa di kampus maupun di masyarakat luas. Kehadiran Anies dalam acara ini menjadi sorotan karena selain statusnya sebagai alumni, ia dikenal luas sebagai tokoh nasional yang kerap menjadi pembicara dalam berbagai forum penting.
Dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan para alumni dan peserta reuni, Anies menyinggung soal perkembangan organisasi mahasiswa di Indonesia dari masa ke masa. Ia menjelaskan bahwa sejak tahun 1978, ketika struktur organisasi mahasiswa tingkat universitas dibubarkan oleh rezim Orde Baru, kepemimpinan mahasiswa di tingkat universitas memang berubah bentuk. Sekarang, menurut Anies, struktur kepemimpinan mahasiswa yang diakui hanya berada di level fakultas, seperti Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan Senat Mahasiswa, sementara di level universitas berbasis peminatan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Anies turut menyampaikan bahwa reuni ini bukan sekadar ajang nostalgia semata, melainkan juga menjadi forum strategis untuk membahas peran mahasiswa dalam konteks perubahan sosial dan tantangan masa depan. Ia menyebutkan bagaimana para mahasiswa lintas angkatan dapat saling menginspirasi dalam memperkuat gerakan sosial di tengah dinamika masyarakat. Pidato ini mendapat sambutan hangat dari sebagian besar peserta yang hadir.
Acara atau temu alumni ini sendiri mempertemukan beberapa generasi yang memiliki pengalaman berbeda-beda dalam organisasi kemahasiswaan UGM. Ada yang merupakan generasi awal yang ikut menyusun konsep dan AD/ART Senat Mahasiswa UGM pada tahun 1990, serta generasi terbaru yang aktif di kepengurusan BEM saat ini. Pertemuan ini dimaksudkan untuk memetakan kembali bagaimana kiprah organisasi mahasiswa dan pemimpinnya dalam konteks perubahan sosial yang lebih luas.
Selain pembahasan tentang organisasi dan sejarah mahasiswa, topik reuni ini juga ramai diperbincangkan di media sosial. Netizen mengaitkan momen tersebut dengan isu ijazah yang sempat viral di jagat maya. Komentar-komentar pengguna media sosial muncul dengan berbagai respons, termasuk yang secara bercanda mempertanyakan apakah jejeran ijazah para alumni yang hadir benar-benar asli. Istilah “Ijazahnya asli semua bah?” pun menjadi salah satu komentar yang ramai dibicarakan di linimasa berbagai platform digital saat itu.
Fenomena komentar netizen ini menunjukkan bagaimana acara yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi dan diskusi intelektual bisa menarik perhatian publik terhadap isu-isu lain yang lebih sensasional, terutama yang berkaitan dengan kredensial akademik tokoh-tokoh nasional. Meski demikian, fokus utama reuni tetap berada pada peran dan kontribusi organisasi mahasiswa serta bagaimana generasi baru dapat terus berkiprah dalam masyarakat.
Reuni lintas angkatan tersebut sekaligus menjadi pengingat sejarah panjang tentang peran BEM UGM dalam pendidikan politik dan gerakan sosial. Sejak berdirinya, BEM UGM dikenal sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang kerap terlibat dalam diskusi dan aksi yang menyuarakan aspirasi rakyat dalam berbagai isu nasional. Kehadiran para alumninya dalam acara ini mencerminkan betapa kuatnya ikatan antar generasi aktivis yang berbeda.
Dalam kesempatan tersebut, Anies juga memberikan penghargaan kepada penyelenggara reuni dan mengucapkan terima kasih atas undangan yang diberikan kepadanya. Ia menyatakan bahwa diskusi lintas generasi seperti ini penting untuk menumbuhkan semangat kolektif bagi perubahan positif di masyarakat. Selain itu, pertemuan semacam ini membuka ruang dialog dan refleksi tentang bagaimana mahasiswa dan alumni dapat terus berkontribusi secara konstruktif terhadap perbaikan bangsa.
Reaksi publik terhadap kehadiran Anies pun beragam. Di satu sisi, ada kelompok yang menyambut positif keterlibatan tokoh nasional di acara reuni yang bersifat akademik dan sosial ini. Mereka beranggapan bahwa kehadiran figur berpengalaman seperti Anies dapat memberikan inspirasi dan wawasan politik yang luas bagi para peserta, terutama generasi muda yang sedang berkembang.
Namun di sisi lain, respons masyarakat di media sosial menunjukkan bagaimana perbincangan publik sering kali tidak lepas dari isu-isu sensasional atau meme yang viral, termasuk komentar tentang ijazah. Fenomena ini menjadi cermin bagaimana diskursus digital bisa cepat beralih dari topik utama ke isu yang lebih memancing perhatian netizen pada umumnya.
Terlepas dari respons tersebut, reuni lintas angkatan BEM UGM ini tetap menjadi momentum penting bagi alumni untuk berkumpul kembali, mengingat sejarah panjang perjuangan organisasi mahasiswa, serta menegaskan kembali peran penting mahasiswa dan alumni dalam pembangunan sosial dan pendidikan di Indonesia.
Acara seperti ini juga mengingatkan bahwa dinamika intelektual dan sosial yang terjadi di lingkungan kampus punya relevansi yang kuat dengan kehidupan masyarakat secara umum, dan keterlibatan alumni dalam diskusi tersebut menunjukkan kesinambungan generasi yang peduli terhadap masa depan bangsa melalui jalur pendidikan dan organisasi.